EVOLUSI PERTANIAN DI INDONESIA

 

MAKALAH

UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH

Pengantar Agribisnis

Yang diampu oleh Ibu Dr. Maya Riantini,S.P.,M.Si.

 

Disusun Oleh  :

Nama               : Rahmadi Nugroho

NPM               : 2014131001

Kelas               : Agribisnis B 2020



 

 

 

JURUSAN AGRIBISNIS

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS LAMPUNG

2020

 

 

KATA PENGANTAR

 

Puji dan syukur mari kita sanjungkan kepada Allah Subhanahu Wata’ala  yang telah memberikan kesehatan kepada kita semua tanpa kurang suatu apapun. Sholat serta salam mari kita sanjung agungkan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW, semoga kita mendapat pertolongannya diyaumil qiyamah kelak, Aamiin.

 

Tugas makalah ini telah saya kerjakan dengan semaksimal mungkin atas dukungan beberapa pihak, sehingga saya dapat menyelesaikan tugas makalah “Evolusi Pertanian di Indonesia” dengan baik dan tepat waktu.

 

Dengan ini saya memohon maaf apabila dalam pengetikan terdapat kesalahan susunan kalimat ataupun penulisan nama, tempat, tokoh, ataupun gelar. Saya pun menerima segala kritik dan saran dari pembaca demi kebaikan bersama.

 

Demikian yang bisa saya sampaikan, semoga tugas makalah ini dapat menambah  ilmu pengetahuan dan memberikan manfaat nyata untuk kita semua.

 

Bandar Lampung, 13 Oktober 2020

 

 

                                                                                                              Rahmadi Nugroho

 

 

 

 

 

 

                                                                           

 

DAFTAR ISI

 

JUDUL………………………………………………………………………….....i

KATA PENGANTAR.. ii

DAFTAR ISI. iii

BAB I. 1

PENDAHULUAN.. 1

1.1.     Latar Belakang. 1

1.2      Rumusan Masalah. 3

1.3      Tujuan Pembahasan. 3

BAB II. 4

TI NJAUAN PUSTAKA.. 4

2.1      Pengertian Pertanian. 4

2.2      Evolusi Pertanian. 5

BAB III. 7

HASIL & PEMBAHASAN.. 7

3.1      Hasil 7

3.2      PEMBAHASAN.. 10

BAB IV.. 11

PENUTUP. 11

4.1      Kesimpulan. 11

4.2      Saran. 11

DAFTAR PUSTAKA.. 12

 

 

 

 


BAB I

PENDAHULUAN

1.1.       Latar Belakang

Evolusi merupakan sebuah proses perubahan yang terjadi  secara bertahap  (berangsur-angsur ) dimana sesuatu berubah dari suatu hal  menjadi bentuk lain biasanya perubahan tersebut  menjadi lebih rumit (kompleks)  atau berubah dengan menjadi bentuk yang lebih baik. (Farlex, 2004).  Evolusi juga terjadi didalam aspek pertanian, hal ini terjadi dengan mengikuti perubahan zaman atau sejarah yang ada. Sejarah pertanian berkaitan erat dengan sejarah kebudayaan atau perilaku masyarakat . Pertanian timbul dan muncul  pada saat suatu masyarakat telah bisa  menghasilkan ketersediaan pangan bagi kehidupannya. Pada akhirnya pertanian  memaksa suatu kelompok manusia untuk menetap, sehingga hal tersebut menyebabkan terjadinya munculnya peradaban. Dari awalnya manusia yang bertempat tinggal secara nomaden (berpindah-pindah) menjadi manusia yang bertempat tinggal dengan menetap. Sehingga munculah kelompok manusia yang mengantungkan kehidupannya pada alam. Masyarakat  dengan budaya  menggantungkan hidupnya dalam hal  pertanian disebut juga sebagai  kebudayaan agraris.

               Pertanian adalah  produksi pangan  yang fokusnya  pada dasar  proses pertumbuhan  nabati dan hewani . Petani mengurus  dan  merawat  pertumbuhan tanaman dan  hewan  dalam  usaha tani pada  kegiatan produksi yang merupakan bisnis sehingga pengeluaran dan pendapatan memiliki makna  yang sangat penting (Mosher, 1966). Pertanian bukan  hanya suatu kegiatan ekonomi untuk menghasilkan pendapatan bagi petani. Melainkan pertanian juga dapat dikatakan menjadi sebuah cara hidup atau way of life sebagian besar petani. Maka dari itu  sistem dan sektor pertanian harus menitikberatkan  bahwa petani sebagai pelaksana  sektor pertanian dengan penuh. Konsekuensi  dari pandangan ini adalah dengan ada kaitkannya dengan unsur-unsur nilai sosial dan budaya lokal yang berisi tentang  aturan dan pola hubungan sosial, politik, ekonomi dan budaya kedalam sistem  pembangunan pertanian dengan optimal. (Pantjar Simatupang, 2003).

 

            Pertanian merupakan sector yang sangat berpengaruh bagi Negara Indonesia, diketahui bahwa suatu Negara bisa dikatakan menjadi Negara yang maju atau kuat apabila ketahanan pangannya kuat. Pangan merupakan hal pokok bagi manusia, karena makan merupakan ciri mahluk hidup. Sebenarnya pertanian di Indonesia sangatlah berpotensi atau berpeluang besar untuk bisa bersaing dipasar internasional, namun kembali kepada pemerintah yang belum memberikan pendampingan yang optimal kepada para petani serta belum bisa menjamin kesejahteraan petani.

          Pada tahun 1984, Indonesia pernah menjadi pengekspor beras ke Negara Vietnam yang pada saat itu sedang mengalami kesulitan pangan serta menyumbangkan 100.000 Ton beras kepada ke Badan Pangan Dunia atau Food and Agricultural Organization (FAO) untuk seluruh petani miskin didunia. Betapa mengagumkannya Negara Indonesia pada saat itu, namun mengapa untuk saat ini malah Negara kita yang mengimpor beras  dari Negara Thailand padahal Negara kita memiliki lahan pertanian yang cukup luas serta profesi sebagai petani yang cukup banyak.

        Peralatan pertanian pada saat ini sudah sangat maju dan modern, hal tersebut dapat membantu para petani agar semakin cepat dalam berbagai proses pertanian seperti menanam, memanen, dan memupuk. Dengan hal tersebut seharusnya hasil pertanian yang ada bisa semakin banyak karena telah didukung dengan peralatan yang sangat mempersingkat waktu dan tenaga, sehingga petani dapat terfokus terhadap penjualan hasil panen.

          Maka dari itu, sebagai warga Negara Indonesia kita semua harus bisa menepatkan diri kita sebagai agent of change (agen perubahan), dengan melakukan berbagai gebrakan baru terutama dibidang pertanian dan sector pangan. Harus kita sadari bahwa sumber daya alam di Negara kita ini sangatlah banyak didukung dengan tanah yang subur dan beriklim tropis. Hal ini seharusnya dapat dimanfaatkan secara optimal dan berproses, sehingga petani di Indonesia memilki tingkat ekonomi yang terjamin serta penghidupan yang layak. Perlu diingat bahwa petani merupakan salah satu  pahlawan bangsa, sehingga kita semua harus bisa mendukung serta ikut berperan dalam meningkatkan pertanian dinegara Indonesia.

1.2            Rumusan Masalah

a.       Apa yang dimaksud dengan pertanian?

b.      Apa yang dimaksud dengan evolusi pertanian?

c.       Bagaimana  keadaan  pertanian Indonesia selama ini ?

d.      Bagaimana keadaan pertanian Indonesia ketika pandemic covid 19

e.       Apa saja hambatan-hambatan dalam melakukan pertanian di indonesia?

 

1.3            Tujuan Pembahasan

a.       Memahami pengertian pertanian

b.      Memahami arti atau penjelasan tentang evolusi pertanian

c.       Mengetahui bagaimana keadaan pertanian Indonesia selama ini

d.      Mengetahui keadaan pertanian Indonesia ketika pandemic covid19

e.       Mengetahui apa saja hambatan-hambatan dalam melakukan pertanian di indonesia

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

TI NJAUAN PUSTAKA

 

2.1         Pengertian Pertanian

              Pertanian adalah kegiatan pemanfaatan sumber daya hayati  yang dilakukan manusia untuk menghasilkan bahan pangan, bahan baku industri, atau sumber energi, serta untuk mengelola lingkungan hidupnya (Organization, 1999).  Pemanfaatan sumber hayati yang dimaksud bukan hanya buahnya saja melainkan semua hal yang terdapat di tumbuhan tersebut dan bisa dimanfaatkan contohnya seperti pohon kelapa dan pohon pisang yang bisa dimanfaatkan dari daunnya, batangnya, buahnya, dan pelepahnya. Pada dasarnya pertanian menurut khalayak umum selalu berkaitan dengan kegiatan bercocok tanam, padahal bercocok tanam hanyalah salah satu dari bagian penting dalam proses pertanian. Dalam bertani tidak hanya mempelajari tentang ilmu bercocok tanam saja, melainkan petani juga  harus mempelajari tentang system pengelolaan tanah, pengelolaan pengairan, pembibitan, perawatan, dan pemanenan.

              Banyak orang yang memandang bahwa pertanian merupakan kegiatan yang bisa dikerjakan tanpa pikiran atau bisa dikatakan cukup modal tenaga saja. Melainkan petani juga harus pandai dalam menganalisis keadaan contohnya petani harus bisa menentukan perkiraan kapan akan terjadinya musim penghujan dan musim kemarau sehingga kedua hal tersebut bisa memengaruhi proses pertanian. Selain itu juga petani diwajibkan pandai karena sudah seharusnya dalam kegiatan bertani harus mendapatkan keuntungan setelah penjualan hasil panen.

              Pada mulanya pertanian dilakukan secara berpindah-pindah tempat yaitu dengan system menghabiskan sumberdaya yang ada didaerah tersebut lalu ketika habis maka mereka  harus berpindah lagi kedaerah yang lain yang masih memiliki sumber daya alam. Kegiatan itu pun berlaku dengan tempat tinggalnya yang selalu berpindah-pindah tempat atau disebut nomaden. Namun akhirnya hal tersebut menyebabkan keterpaksaan terhadap manusia untuk dapat tinggal menetap, karena apabila berpindah-pindah terus mengakibatkan pengeluaran tenaga dan bahan pangan yang banyak pada saat perjalanan untuk mencari lokasi baru yang masih banyak sumberdaya alamnya.

2.2         Evolusi Pertanian

              Evolusi pertanian merupakan sebuah  keterlambatan pada sektor  pembangunan dibidang pertanian dikarenakan oleh beberapa factor hambatan ekonomi misalnya terbatasnya luas lahan, modal, dan kesalahan dalam mengambil keputusan hal ini lah yang membuat anggapan bahwa petani masih keterbelakangan. (Collier, 1996).  Jadi, evolusi pertanian merupakan sebuah proses perubahan yang terjadi  secara bertahap  (berangsur-angsur ) dimana sesuatu berubah dari suatu hal  menjadi bentuk lain biasanya perubahan tersebut  menjadi lebih rumit (kompleks)  atau berubah dengan menjadi bentuk yang lebih baik.

              Dalam pelaksanaannya evolusi pertanian terjadi dalam beberapa masa, sebagai berikut :

A.           Masa Pertanian Primitif

Sebelum masa pertanian primitf dimulai manusia purba sama sekali tidak pernah berfikir untuk melakukan sistem pertanian. Dalam mempertahankan kehidupannya manusia purba selalu mengandalkan kegiatan berburu dan menghabiskan seluruh bahan pagan yang ada disuatu daerah, barulah ketika sumber daya pangan didaerah tersebut telah habis maka manusia purba berpindah tempat atau mencari daerah yang memiliki sumber daya pangan. Hal tersebut pun berlaku dengan tempat tinggalnya, yang disebut dengan nomaden ( bertempat tinggal dengan cara berpindah-pindah).

Akhirnya terjadilah konflik dimana semua daerah sudah diambil sumberdaya pangannya sehingga manusia purba pun kesulitan dalam memenuhi kebutuhan pangan. Hal ini lah yang menyebabkan mau tidak mau manusia purba harus mempertahankan sumber daya pangannya,sehingga  manusia purba pun pada akhirnya melakukan kegiatan pertanian menggunakan alat yang sangat sederhana yaitu kayu dan batu sebagai alat bantu mereka dalam proses bertani. Dan konflik baru lagi pun muncul karena manusia telah tinggal secara menetap maka terbentuklah system rantai makanan, sehingga manusia pun harus berebut dan harus bisa menjaga tanamannya dari serangan hewan. Dalam pelaksanaannya apabila suatu kelompok manusia tersebut memiliki makanan atau buah favorit maka dia akan tinggal dekat dengan pohon itu dan selalu menjaganya


B.       Masa Pertanian Tradisional

Pada masa pertanian tradisional manusia telah mampu memahami dan mengetahui apa saja manfaat dan kegunaan dari suatu tumbuhan . misalnya seperti daun jambu biji yang bisa membantu penyembuhan diare dan berbagai obat-obatan  tradisional yang berasal dari tumbuhan pun telah bermunculan atau yang sering disebut dengan jamu. Selain itu juga manusia telah mengetahui bagaimana cara bercocok tanam dan  pemeliharaan tanaman yang baik. Pemakaian alat-alat pembantu dalam bertani pun sudah berubah tidak hanya sekedar menggunakan batu dan kayu melainkan sudah ada alat bantu yang lebih terbagi lagi fungsinya, contoh alatnya adalah cangkul, arit, garuk, gepyok padi, ani-ani dan lain-lain.

 Di masa ini, masyarakat sudah mulai mengenal kegiatan yang namanya barter (pertukaran barang dengan barang) dan juga jual beli dengan uang sebagai alat tukarnya. Sistem pertukaran barter pada saat dahulu tidak dihargai jumlahnya melainkan penentuan jumlah didasarkan atas keinginan masing-masing pelaku pembeli. Misal, dua ikat kangkung dibarterkan dengan satu ekor ayam. Dengan berjalannnya waktu sistem nominal suatu barang (uang) telah ditemukan, sehingga menyebabkan para petani tidak hanya memikirkan hasil pangan yang awalnya hanya untuk kebutuhan keluarganya, melainkan untuk masa ini mereka sudah berfiikir bertani untuk menghasilkan uang yang banyak dan bisa mencukupi kebutuhan manusia yang ada disekitarnya. Dan hal ini juga menyebabkan para petani harus bisa meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil panen karena terjadinya sistem persaingan dipasar. Masa pertanian tradisional ini  berlangsung sampai akhirnya muncul teknologi-teknologi yang mampu mengembangkan pertanian menjadi lebih efisien dalam segala aspeknya.

C.    Masa Pertanian Modern

Dalam masa ini petani sudah sepenuhnya melakukan kegiatan bertani untuk bisnis atau penjualan tidak lagi hanya untuk kepentingan keluarga atau kelompok nya.  Dimasa ini, kemajuan teknologi sudah mendominasi dalam kegiatan pertanian, mulai dari pembibitan, perawatan, pengairan, penanaman dan pemanenan dan juga sampai dengan pengelolaan hasil panennya pun telah memakai teknologi. Hal ini merupakan suatu keuntungan bagi pemilik lahan, namun hal ini pun berdampak buruk bagi buruh tani yang tidak memiliki lahan karena tenaga mereka akan tergantingan oleh tenaga mesin atau teknologi sehingga meningkatkan angka pengangguran. Contohnya adalah pada masa dulu buruh tani melakukan proses penaman padi menggunakan sistem ramai yaitu dibutuhkan sampai 10 orang untuk sekali tanam disuatu lahan sawah. Pada saat ini buruh tani pun sudah tergantikan dengan mesin tanam padi yang hanya perlu dikendalikan oleh 2 orang, 1 orang sebagai penjalan mesin dan 1 orang lagi sebagai pengarah. Hal ini jelas sangat bisa mengurangi lapangan pekerjaan dan meningkatkan angka pengangguran.

Selain itu juga para petani dimasa ini lebih banyak yang mementingkan hasil yang banyak dan cepat dibandingkan dengan kualitas kesehatan dan keamanan. Penggunaan pestisida yang berlebihan dan sistem penyuntikan pada buah untuk mempercepat pertumbuhan dan pemasakan pada buah dengan menggunakan zat kimia. Hal ini sangat membahayakan untuk kesehatan manusia dan juga dapat merusak sistem rantai makanan karena terjadinya perbuahan yang signifikan terhadap produsen. Selain membahayakan kepada manusia hal ini juga membahayakan bagi alam, yaitu terjadinya pencemaran air dan pencemaran tanah.

Masa pertanian modern ini adalah masa pertanian yang masih berlaku sampai sekarang, dimana mesin dan zat kimia sudah mendominasi kegiatan manusia.


BAB III

HASIL & PEMBAHASAN

 

3.1       Hasil

A.       Keadaan pertanian Indonesia selama ini

Dari masa kemasa keadaan pertanian Indonesia selalu mengalami penurunan  baik secara kuantitas (jumlah) maupun kualitas. Hal ini lah yang menyebabkan kenapa Negara Indonesia yang merupakan  Negara dengan luas Negara yang sangat luas dan didukung segala hal untuk bisa menjadi yang terbaik dibidang pertanian malah  tampak sebaliknya. Negara Indonesia merupakan Negara yang memiliki iklim tropis yang sangat cocok untuk melakukan pertanian. Selain itu juga didukung dengan kualitas tanah Indonesia yang sangat bagus dan subur.

Berikut penjelasan mengenai tahapan-tahapan pertanian Indonesia dari masa kejayaannya hingga sekarang.

·           Pengimpor beras terbesar didunia pada tahun 1977

Impor beras pertama kali dilakukan oleh Negara Indonesia setelah kemerdekaan  yaitu pada tahun 1977. Pada saat itu Negara Indonesia baru saja mengalami pergantian kepemimpinan yaitu dari presiden pertama Indonesia Ir.Soekarno dan digantikan oleh Soeharto. Pada saat itu Indonesia sedang mengalami perekonomian yang  payah dimana inflasi tinggi, utang menumpuk, harga barang-barang melambung, daya beli masyarakat anjlok, dan seterusnya. Sehingga menyebabkan Negara Indonesia harus melakukan impor beras dengan jumlah yang sangat fantasis. Indonesia mengimpor sejumlah 2 Juta Ton beras pada tahun 1977 atau mencapai sepertiga dari berasa yang tersedia dipasar internasional. (H.S.Musa, 2001)

Namun impor yang dilakukan pemerintah pada tahun itu sangatlah tepat dilakukan karena harga-harga barang yang lainnya pun ikut menurun, serta dapat mengembalikan kembali keadaan ekonomi menuju perkembangan. Setelah melakukan impor pemerintah tidak hanya berdiam diri mereka langsung mengarahkan kepada petani untuk semakin meningkatkan kuantitas dan kulitas padi sehingga bisa menjaga harga-harga barang yang ada pada saat itu.

·           Swasembada Beras ala Soeharto

Negara Indonesia pada saat ini sedang mendapat julukan Macan Asia yang tertidur. Bagaimana tidak mendapat julukan seperti itu, pada tahun 1984, Indonesia pernah menjadi pengekspor beras ke Negara Vietnam yang pada saat itu sedang mengalami kesulitan pangan serta menyumbangkan 100.000 Ton beras kepada ke Badan Pangan Dunia atau Food and Agricultural Organization (FAO) untuk seluruh petani miskin didunia. Bantuan pangan dari negara-negara maju hendaknya tidak membuat negara-negara yang sedang membangun selamanya tergantung pada uluran tangan negara-negara maju. (G.Dwipayana, 1988).

Hal tersebut lah yang seharusnya dapat dipelajari aoleh petinggi bangsa Indonesia dimana pada tahun 1984 bangsa kita mampu dan bisa menjadi penghasil padi terbaik dan terbesar didunia. Padahal saat itu bangsa Indonesia belum berkembang dalam teknologi dan mesin tetapi bisa  melakukan swasembada. Lalu mengapa saat ini tidak bisa dilakukan padahal dengan adanya teknologi dan mesin serta  sistem pertanian yang berkembang dapat menjadi pendorong yang kuat bagi bangsa kita agar bisa menjadi Negara dengan penghasil beras terbaik dan terbanyak didunia.

·           Kembali lagi mengimpor beras

Memasuki tahun 1990an Negara Indonesia mengalami kembali kekurangan  beras   sehingga terpaksa untuk melakukan impor beras kembali dari Negara lain. Hal ini terjadi terus menerus dari tahun ketahun bahkan pada tahun 1995 negara Indonesia harus melakukan impor beras sejumlah 3 juta ton.
Situasi  semakin  parah dikarenakan pada saat itu terjadi krisis ekonomi yang mulai memasuki kawasan Asia, dan pada akhirnya juga menimpa Negara Indonesia  pada tahun 1997 dan 1998. Pada tahun 1998 negara Indonesia hanya bisa memproduksi beras nasional sebanyak  33 juta ton, sedangkan jumlah konsumsi mencapai lebih dari 36 juta ton.

Hal  inilah yang mewajibkan pemerintah harus melakukan impor beras lebih banyak lagi dari luar negeri. Dan  pada tahun 1999 impor beras Indonesia nyaris menembus angka 5 juta ton.  Tertinggi impor beras Negara Indonesia sepanjang zaman terjadi pada tahun 1998 dengan jumlah 6 juta ton beras dari luar negeri. (Simatupang, 2004).

Dengan terjadinya krisis ekonomi, pangan, dan politik.  Mengakibatkan gejolak besar-besaran yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia sehingga membuat Soeharto harus mengundurkan diri dari kepresidenan. Dengan berjalannya waktu ekonomi Negara  Indonesia terutama  dalam hal impor beras setelah mengalami tantangan yang begitu  sulit, mulai menunjukan tanda bahwa keadaannya sudah membaik. Pada masa kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sejak tahun 2004. Pada tahun 2005 negara Indonesia hanya mengimpor kurang dari 190 ribu ton beras meskipun mengalami penaikan  438 ribu ton ditahun 2006.

 

B.     Keadaan pertanian ketika pandemi covid 19

Pandemi Covid-19 telah menghancurkan sistem perekonomian seluruh Negara didunia. Termasuk Negara Indonesia dimana update terkini mengenai covid-19 di Indonesia dengan total positif ±314.000 Jiwa, sembuh ±263.000 jiwa, dan meninggal dunia 12.027 jiwa. (Kompas.Com, 2020).

Pandemic covid 19 membuat seluruh dunia mengalami kemunduran ekonomi dan rusaknya tatanan kehidupan. Di Negara Indonesia covid 19 sudah terjadi cukup lama dari mulai awal maret sampai saat ini dan sama sekali tidak mengalami penurunan. Dalam hal ini tentu ekonomi bangsa kita sedang tidak baik-baik saja melainkan sedang mengalami krisis ekonomi karena beberapa sektor ekonomi sangat merugi karena terjadinya pandemic ini.

Dari beberapa sektor ekonomi yang tidak dapat bergerak, sektor pertanian merupakan sektor yang tetap bergerak. Karena namanya kebutuhan pangan itu tidak bisa ditunda harus tetap dijalankan, dalam hal ini petani merupakan salah satu pahlawan covid 19 karena tetap menjaga pasokan  pangan Negara kita pada saat ini. Hal ini lah sektor yang harus difokuskan atau dititik beratkan oleh pemerintah selain sektor kesehatan. Karena dengan menjaga stabilitas pangan sangat membantu kestabilan harga-harga barang lain, terutama beras, cabai, dan bawang merah. Ketiga bahan pangan tersebut merupakan sektor utama bangsa Indonesia dibidang pertanian apabila ketiga bahan pangan tersebut mengalami kenaikan harga apa yang bisa dilakukan oleh pemerintah kalau harus selalu mengandalkan Negara lain dengan melakukan impor.

3.2            PEMBAHASAN

A.    Faktor penghambat pertanian di Indonesia

Negara Indonesia merupakan  Negara dengan sumber daya alam yang sangat melimpah. Dalam sektor pertanian seharusnya Negara kita dapat bersaing karena didukung oleh ilklim tropis yang sangat bagus bagi pertanian, tanah yang subur, dan sistem pengairan yang memadai . Namun hal tersebut tidak bisa menjadikan pertanian di Indonesia menjadi yang terbaik kita  tetap kalah dengan Negara tetangga kita seperti Taiwan, Thailand, Jepang dan Malaysia.

Hal tersebut dapat  terjadi karena beberapa faktor, yaitu:

1.        Pola pikir masyarakat yang masih menganggap rendah profesi di bidang pertanian terutama masyarakat yang sudah berpendidikan tinggi.

2.        Jumlah produksi pertanian tidak seimbang dengan usaha pemberdayaan bagi petani, yang mana hingga saat ini banyak petani yang masih menggunakan metode tradisional dikarenakan keterbatasan anggaran. Sehingganya, produksi pertanian yang dihasilkan kurang maksimal.

3.        Mindset pemerintah Indonesia tentang politik anggaran konsumsi daripada kecenderungan produksi dari segala sektor. Dengan kata lain, pemerintah masih menggunakan kebijakan impor pangan.

4.        Kurang adanya usaha oleh pemerintah atau lembaga pemberdayaan petani untuk mendongkrak pangan nasional dengan menciptakan varietas unggul, metode budaya, maupun penanganan hama..

5.        Kebijakan harga (pricing policy) terutama produk pangan beras kurang diterapkan oleh pemerintah, sehingga menyebabkan petani banyak mengalami kerugian ketika hasil panen sudah didapatkan.

6.        Pemerintah kurang peduli dan kurang mendukung persoalan teknis dan sarana produksi seperti irigasi, bibit, maupun pupuk. Tidak seperti negara-negara Asia lainnya yang pemerintahnya sangat mensupport sektor pertaniannya

 

 

 

 

BAB IV

PENUTUP

 

4.1  Kesimpulan

Pertanian adalah pengelolaan sumber daya alam yang dilakukan dengan memanfaatkan sumber daya tersebut agar bisa bermanfaat dibidang pangan. Evolusi pertanian dapat terjadi karena adanya paksaan oleh perubahan perilaku dan kebudayaan suatu masyarakat dan masyarakat pun  mau menerima perubahan tersebut. Kondisi pertanian di Indonesia pada saat ini belum bisa dikatakan bagus, karena dalam faktanya Negara kita masih sering melakukan berbagai impor pangan. Inilah yang harus dibenahi bersama oleh seluruh elemen Negara, baik itu masyarakat maupun pemerintah. Sangat disayangkan apabila potensi Negara Indonesia yang cukup besar ini dibidang pertaniannya tidak bisa dimanfaatkan dengan baik.

 

4.2  Saran

Mungkin inilah makalah yang saya hasilkan pada tugas makalah pengantar agribisnis  (Pendidikan Agama Islam) meskipun dalam penulisan makalah ini masih jauh untuk dikatakan sempurna saya berharap hal ini dapat menjadikan tambahan ilmu bagi pembaca teutama diri saya. Pada dasarnya manusia merupakan tempat kesalahan, tapi pada dasarnya kita lah yang menentukan apakah kita akan melakukan kesalahan terus menerus atau malah melakukan kebenaran secara terus menerus.dengan ini saya selaku penulis memohon arahan dengan kritik dan saran dari pembaca serta mengucapkan terimakasih kepada Bu Dr. Maya Riantini,S.P.,M.Si selaku Dosen Pengampu  Mata Kuliah Pengantar Agribisnis yang telah memberikan tugas pembuatan makalah ini kepada kami, demi kebaikan kami bersama.

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Kompas.Com. (2020, 10 13). Retrieved from https://nasional.kompas.com/read/2020/10/13/15434751/update-kini-ada-340622-kasus-covid-19-indonesia-bertambah-3906?page=all

Collier, W. L. (1996). Pendekatan baru dalam pembangunan pedesaan di Jawa. In W. L. Collier. Yayasan Obor Indonesia.

Farlex. (2004). The Free Dictionary. New York, America.

G.Dwipayana, N. S. (1988). Jejak Langkah Pak Harto.

H.S.Musa. (2001). Implementasi Kebijakan Stratergis untuk Peningkatan Produksi Padi Berwawasan Agribisnis dan Lingkungan.

Mosher, A. T. (1966). Menggerakkan dan membangun pertanian. Djakarta: Yasaguna.

Organization, I. L. (1999). Safety and Health in Agrilculture. Internasional Labour Organization.

Pantjar Simatupang, S. K. (2003). Produksi Domestik Bruto, Harga, dan Kemiskinan. Media Ekonomi dan Keuangan Indonesia,, 324.

Simatupang, R. (2004). Riset Pangan tahun 1998. 32.

 

 

 

Komentar